awalnya dia datang
lalu dia terbang
besoknya kembali datang
menemaniku di setiap malam
aku senang
aku rasa dia juga senang
kami hanya teman berbincang
lalu kemudian di datang
saat hari masih siang
aku makin senang
aku tak pernah kesepian
tapi dia tetap kunang-kunang
kelak dia akan terbang
sampai tiba-tiba awan hitam datang
tidak tahu dari mana asalnya
menutup semua cahaya kunang-kunang
aku tak bisa lihat lagi dirinya
tak mampu lagi melihat sinarnya
aku tak lagi mengenal dirinya
menatap dengan mata nanar
dan terus bertanya
kemana perginya
semua hal yang indah
yang terlalu berharga
hingga aku sadar
aku bukan butuh sinarnya
aku tidak mencari terangnya
hilang
maka bila dia hanya lebah
yang tak berpendar
atau mungkin burung gereja
aku tetap temannya
untuk sekedar membagi cerita
tapi apa aku baginya
aku tak pernah ingin memikirkannya
membuat pening di kepala
lalu mengapa dia harus bilang
kalau hari ini akan pulang
aku tahu dia senang terbang
bahkan terbang untuk pulang
aku hanya menitip sebuah pesan
janganlah terlalu lama
tapi apa jawabnya
dia memanggil awan hitam datang
yang mengirim aku pergi pada siang hari
agar tak butuh kunang-kunang lagi
setiap saat adalah siang bagiku kini
selalu panas yang menemani
bila aku duduk dalam sunyi